REFLEKSI AKHIR TAHUN PELAJARAN

18 05 2009

REFLEKSI AKHIR TAHUN PELAJARAN

Oleh : Kuat Parmono, S.Pd

 

Hari demi hari terus berganti dan tanggal bergulir tiada pernah henti, dari bulan Juli tahun 2008 tak terasa kini hampir bertemu lagi dengan bulan Juli untuk tahun yang berbeda, satu tahun, sebuah kurun waktu yang tidak pendek untuk sebuah persiapan, persiapan untuk menorehkan catatan sebuah prestasi, persiapan untuk meraih sukses yang dicitakan, persiapan untuk  melangkah lebih jauh dan lebih tinggi lagi.

Akhir tahun pelajaran, suatu momentum yang sangat bermakna jika tidak boleh dikatakan sakral bagi sebuah perjalanan proses pembelajaran, karena disaat itulah  keberhasilan proses pembelajaran akan ditunjukan, meskipun ada yang beranggapan bahwa parameter yang digunakan kurang komperhensif karena keberhasilan pembelajaran hanya ditentukan oleh beberapa mata pelajaran saja namun terlepas dari itu semua  kita tetap dapat mengambil pelajaran atau menjadikannya sebagai  cermin untuk berkaca “ Sudahkah pembelajaran yang kita lakukan memberikan hasil sesuai dengan yang kita harapkan ?“ Mengapa kita selalu cemas dan ragu untuk menghadapi Ujian Nasional ?  Mengapa kita seakan tidak pernah siap untuk sesuatu yang sudah pasti kehadirannya ? Mengapa waktu satu tahun terasa tidak cukup untuk mempersiapkannya ? Marilah kita merenung dan berpikir, sehingga beban psikologis di setiap akhir tahun pelajaran agak berkurang. Ada beberapa faktor yang perlu kita cermati bersama karena sering  terjadi pada diri kita :

  1. Kita masih kurang bijak dalam pengelolaan waktu.

Dalam urusan waktu kita sering tanpa analisa bahwa untuk sebuah proses ada rentang waktu ideal yang dibutuhkan, kita sering mengabaikan, kita masih sering melontarkan seloroh ” tenang saja waktunya masih lama ” , ” santai saja jangan buru-buru ” atau kalimat-kalimat lain yang mencerminkan bahwa kurangnya optimalisasi pemanfaatan waktu.

  1. Kita sering terlambat menyadari akan keinginan atau cita-cita diri.

Dalam aktifitas sehari-hari kita sering terjebak pada rutinitas, kita sering lupa bahwa kita punya keinginan termasuk didalamnya proses belajar mengajar, kita sering lupa bahwa kita punya cita-cita, sebuah hasil proses pembelajaran yang maksimal, yang kita lakukan tidak lebih sebagai rutinitas, sesuatu yang memang sudah menjadi kebiasaan, bagi siswa seperti biasa setiap pagi sampai di sekolah mengikuti apa yang terjadi nanti, bagi guru juga seperti biasa menyampaikan apa yang mesti disampaikan sesuai yang ditentukan dalam kurikulum, semua aktifitas tanpa dilandasi motivasi mengapa dan untuk apa saya belajar ? mengapa dan untuk apa saya mengajar ?

  1. Tidak jujur terhadap diri sendiri.

Entah mengapa kita sering tidak kuasa untuk berlaku jujur meskipun kepada diri sendiri, entah karena gengsi atau tidak percaya diri yang pasti kita sering tidak peduli dengan  keadaan diri kita yang sebenarnya, kita tahu bahwa ada kekurangan pada diri kita, tetapi kita tidak kuasa untuk mengakuinya sehingga segala upaya yang semestinya tidak kita lakukan justru kita jadikan sebagai sarana untuk menutupi kekurangan itu,

 

 

akibatnya kita terjebak dalam keadaan yang semu, upaya mencontek adalah salah satu contohnya, hasil dari mencontek bisa jadi nilai yang diraihnya cukup memuaskan, sehingga upaya untuk belajar lebih keras lagi tidak pernah dilakukan karena merasa hasilnya sudah bagus, kita lupa bahwa sesungguhnya itu bukan prestasi kita yang sebenarnya, akibatnya pada saat dimana kita tidak mungkin untuk mencontek rasa siap dan optimis tidak pernah dimiliki.

  1. Beban belajar yang terlalu tinggi.

Dalam Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan setiap sekolah diberi peluang untuk mengembangkan kurikulum dengan tujuan untuk dapat mengembangkan keunggulan lokal, konsekwensinya adalah bertambahnya beban belajar peserta didik dan berkurangnya porsi belajar untuk matapelajaran baku dalam kurikulum, hal ini tanpa disadari yang awalnya bertujuan untuk meningkatkan kompetensi siswa justru menjadi beban tersendiri bagi peserta didik.

Dengan melihat faktor-faktor diatas marilah kita semua stake holder pendidikan mulai dari Pemerintah, Masyarakat, Lembaga Pendidikan, Guru dan Peserta didik  secara bersama-sama berupaya melakukan revitalisasi paradigma terhadap proses pembelajaran sehingga hakekat mutu pendidikan dapat kita tingkatkan. Mulailah dengan manajemen waktu yang baik, menyadari sejak dini akan cita-cita diri, jujur dimulai dari diri sendiri dan kepada pembuat kebijakan, buatlah kebijakan yang tidak membebani dan mengkebiri pelaku pendidikan. Semoga satu tahun yang akan datang tidak ada lagi keraguan dan kecemasan untuk menghadapi Ujian Nasional. Selamat berjuang dan berkarya demi masa depan bangsa dan negara. Semoga Allah Swt senantiasa menyertai kita. Amin…………


Tindakan

Information

Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s




Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.